Senin, 12 Mei 2014

Terlarangkah meniup makanan atau minuman ?


 عن عبد الله بن عباس رضي له عنهما : أن النبي صلى الله عليه وسلم نهى أن يتنفس في الإناء أو ينفخ فيه / رواه الترمذي, وقال حديث حسن صحيح
Dari Abdulloh Bin ‘Abbas Rodhiyallohu ‘Anhuma :"Bahwasannya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Salam melarang bernafas didalam bejana, atau meniupnya." (HR.Tirmidzi, dan beliau berkata hadits hasan Shahih)

Makna beberapa Mufradat/kata:
- (an-Nafkhu/ النفخ) artinya adalah meniup (mengeluarkan udara dari mulut / إخراج لهوا من الفم )

- (at-Tanaffus/ التنفس) artinya adalah bernafas (memasukkan angin melalui mulut atau hidung dan  mengeluarkannya/ إدخال الهواء في الرئتين وإخراجه منهما)

- (al-Inaa’ / الإناء) adalah wadah atau tempat yang dipakai untuk menyimpan makanan atau minuman / الذي يوضع فيه الطعام أوالشراب .


Penjelasan :

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Salam mengajari ummatnya adab-adab Islam, diantaranya adalah adab makan-minum yang baik sebagaimana disebutkan dalam hadits ini.

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Salam melarang kita dari benafas ketika minum ataupun meniup minuman. Karena terkadang orang yang meniup minuman itu akan mengeluarkan penyakit yang ada dalam dirinya, atau akan menjadikan orang yang minum setelahnya merasa jijik.


Berkata As-Syaukani Rohimahullohu Ta’ala dalam Nailul Authar:

 فلا ينفخ في الإناء ليذهب ما في الماء من قذارة ونحوها ، فإنه لا يخلو النفخ غالباً من بزاق يستقذر منه ، وكذا لا ينفخ في الإناء لتبريد الطعام الحار ، بل يصبر إلى أن يبرد ، ولا يأكله حاراً ، فإن البركة تذهب منه ، وهو شراب أهل النار /8:221
“Maka hendaknya jangan meniup kedalam bejana/ الإناء baik untuk menghilangkan kotoran atau selainnya. Karena pada umumnya tiupan itu malah membawa ludah yang justeru dapat mengotori makanan (minuman) tersebut.demikian juga dilarang meniupnya untuk mendinginkan makanan(minuman) tersebut untuk mendinginkannya, namun hendaklah sesorang itu bersabar sampai makanan(minuman) itu dingin, dan tidak memakannya dalam keadaan panas, karena itu akan menghilangkan berkah pada makanan, yang mana itu merupakan makanan Ahlunnar/ penghuni neraka.” ( Nailul Authar VIII/221 )

Dan berkata Syaikh Abdur Rauf Al-Munawi Rohimahullohu Ta’ala :

 والنفخ في الطعام الحار يدل على العجلة الدالة على الشَّرَه وعدم الصبر وقلة المروءة
"Dan meniup makanan(termasuk juga minuman) yang panas itu menunjukkan bukti keserakahannya juga menunjukkan ketidaksabaran serta sedikitnya muru’ah/ wibawa”.( Faidul Qodiir VI/ 346 ).


Namun sebagian Ulama ada yang membolehkannya:

Berkata pengarang kitab Ghoyatul Maram, ya’ni Al-Amadi Rohimahulloh Ta'ala :

 لا يكره النفخ في الطعام إذا كان حاراً
“Tidak mengapa meniup makanan jika makanan itu panas”.

Al-Imam Al-Mawardi Al-Hanbali Rohimahulloh Ta’ala mengomentari perkataan Imam Al-Amadi tersebut dengan berkata:

 وهو الصواب ، إن كان ثَمَّ حاجة إلى الأكل حينئذ
“Perkataannya benar, hal itu jika seseorang benar-benar butuh untuk memakannya saat itu juga.” ( A-Inshaf VIII/ 328 ).


Lalu bagaimana yang benar??

Dalam Syarahnya terhadap kitab Riyadhusshalihin ( I/88 ), Syaikh Al-‘Alamah Muhammad Bin Sholeh Al-‘Utsaimin berkata:


 إلا أن بعض العلماء استثنى من ذلك ما دعت إليه الحاجة ، كما لو كان الشراب حاراً ويحتاج إلى السرعة ، فرخص في هذا بعض العلماء، ولكن الأولى أن لا ينفخ حتى لو كان حاراً؛ إذا كان حاراً وعنده إناء آخر فإنه يصبه في الإناء ثم يعيده ثانية حتى يبرد
“akan tetapi sebagian ‘Ulama mengecualikan larangan itu jika sangat dibutuhkan, seperti seseorang yang perlu makanan tersebut dalam waktu cepat maka para ulama memberika rukhshah/keringanan, tetapi yang utama adalah tidak meniupnya walaupun makanan/minuman itu panas.apabila makanan/minuman itu panas sedangkan ia memiliki bejana/wadah yang lain, maka hendaknya ia memindahkannya kewadah yang lain kemudian mengembalikannya lagi dan begitu seterusnya sampai makanan/minuman itu menjadi dingin."




Yogyakarta, 8/12/2009 pukul 8:17

1 komentar:

  1. Kalau di dinginkan pakai mesin pendingin yang dijual oleh para pen- jual display cooler aman nggak ya gan buat tubuh. Pernah nemu artikel tentang bahayanya memakai pendingin :(

    BalasHapus