Namun Ikhwati fillah, Disamping sedapnya meraih keutamaan dan mereguk kenikmatan dengan memiliki ilmu, sesungguhnya kita harus siap pula untuk menelan pahitnya ancaman ketika kita mengkhianati ilmu, karena sesungguhnya ilmu itu untuk diamalkan.
Kecelakaan yang lebih besar menanti sohibul ilmi ketika ia menyeleweng dan tidak beramal dengannya. Bukankah Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam pernah bersabda:
ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥُ ﺣُـﺠَّﺔٌ ﻟَﻚَ ﺃَﻭْ ﻋَﻠَﻴْﻚَ
Ya, akan menjadi pembela ketika kita mengilmui dan mengamalkannya namun akan menambah beratnya siksa ketika kita mengetahui namun berpaling darinya.
Oleh karenanya kita dapati dari apa yang dinyatakan oleh para Shahabat Rasulullah adalah bahwa mereka tidaklah membaca sepuluh ayat dari al-Qur’an melainkan mereka memahami dan mengamalkan isinya. Bahkan saking wara’nya Yusuf Bin Asbath beliau lebih senang menghentikan bacaan al-Qur’an dan menggantinya dengan kalimat-kalimat dzikir yang lain. Ketika ada yang bertanya mengapa ia berbuat demikian, maka Beliau Rahimahullah berkata:
ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻥ ﻟﻴﺲ ﻳﻌﻤﻞ ﺑﻤﺎ ﻓﻴﻬﺎ ﻟﻢ ﺗﺰﻝ ﺍﻟﺴﻮﺭﺓ ﺗﻠﻌﻨﻪ ﻣﻦ ﺃﻭﻟﻬﺎ ﺇﻟﻰ ﺁﺧﺮﻫﺎ، ﻭﻣﺎ ﺃﺣﺐ ﺃﻥ ﻳﻠﻌﻨﻨﻲ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ
“Jika
pembaca Qur’an itu tidak mengamalkan apa yang dibacanya, maka surat
yang ia baca itu terus menerus melaknatinya, dan aku tidak ingin al-
Qur’an melaknatiku.” (Hilyatul Auliya: III/469).Begitu pula al-Imam ats-Tsauri Rahimahullah, jika bukan karena maslahat yang sangat besar beliau berkeinginan untuk pensiun dari menuliskan hadits karena khawatir dirinya tidak mampu mengamalkan hadits-hadits yang ditulisnya.
Ummu Dardaa’ Radhiyallahu ‘anha pernah bertanya kepada seseorang; “Apakah engkau sudah mengamalkan apa yang engkau ketahui?”
Orang itu menjawab: “belum.”
Beliaupun berkata kepadanya:
ﻓﻠﻢ ﺗﺴﺘﻜﺜﺮ ﻣﻦ ﺣﺠﺔ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻚ ؟
“Mengapa engkau hanya memperbanyak hal yang akan menjadi bukti yang memberatkanmu disisi Allah.”Dan suami beliau yaitu Abu Dardaa’ Radhiyallahu ‘anhu pernah juga mengatakan:
ﻭﻳﻞ ﻟﻤﻦ ﻟﻢ ﻳﻌﻠﻢ ﻭ ﻟﻢ ﻳﻌﻤﻞ ﻣﺮﺓ ﻭ ﻭﻳﻞ ﻟﻤﻦ ﻋﻠﻢ ﻭ ﻟﻢ ﻳﻌﻤﻞ ﺳﺒﻌﻴﻦ ﻣﺮﺓ
“Satu kecelakaan bagi orang yang tidak mengetahui sesuatu dan tidak mengamalkannya dan tujuh puluh kecelakaan bagi orang yang sudah tahu tapi tidak mengamalkannya.” (Shaidul Khatir: 42)
Mengapa demikian?
Hal itu dikarenakan tidak sama antara orang yang mengetahui dan yang tidak mengetahui.
ﻫَﻞْ ﻳَﺴْﺘَﻮِﻱ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻟَﺎ ﻳَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻳَﺘَﺬَﻛَّﺮُ ﺃُﻭﻟُﻮ ﺍﻟْﺄَﻟْﺒَﺎﺏِ
“Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.”(Az-Zumar:9).
Pangkalan Kerinci 23 Jumadal Ulaa 1435H

Tidak ada komentar:
Posting Komentar