Seorang ustadz akan menjadi tempat masyarakat menumpahkan isi hatinya
Seorang ustadz yang cinta pujian tidak akan bertahan lama gelar ke-ustadz-annya
Seorang ustadz mutlak harus memiliki kesabaran dalam menghadapi madh’unya
Seorang ustadz yang tidak dapat menahan emosi, tidak tenang dan tidak sabar sebaiknya segera menanggalkan “baju” ustadz yang dikenakannya.
Sufyan Ibnu Waki’ Rahimahumallah mengatakan bahwa ayahnya (Waki’) berkata:
مَنْ أَرَادَ أَنْ يُحَدِّثَ فَلْيَصْبِرَ، وَإِلَّا فَلْيَسْكُتْ
"Barangsiapa yang ingin menyampaikan hadits hendaknya dia bersabar,
jika tidak maka hendaknya dia diam.” (Al-Jaami Li Akhlaaqir Raawi I/355)Ya, seorang ustadz dalam menghadapi madh’unya bagaikan seorang guru menghadapi anak-anak muridnya, dia harus menyayangi mereka dan sabar atas kenakalan mereka. Imam Nawawi Rahimahullah telah mengingatkan hal ini dalam kitabnya:
وَيُجْرِيَهُ مَجْرَى وَلَدِهِ فِي الشَّفَقَةِ عَلَيْهِ وَالِاهْتِمَامِ بِمَصَالِحِهِ والصبر عل جفائه وسوء أدبه
“Guru hendaklah memperlakukan murid seperti anaknya dalam kasih sayang,
dan betul-betul memperhatikan kebaikan mereka, dan sabar terhadap
kenakalan dan keburukan adabnya . . .” (Al-Majmu’ Syarhl Muhadzdzab
I/30)*Pangkalan Kerinci 14 Jumadats Tsaniyah 1435H

Tidak ada komentar:
Posting Komentar