Teringat masa-masa waktu mondok di Padang Panjang dulu.
Setiap perjalanan dari Bukit Tinggi menuju Pangkalan Kerinci saya sering tertidur dengan nyenyaknya di bus Yanti Grup yang mayoritas penumpangnya adalah para penggaleh pulang berbelanja di Aur Kuning.
Suatu kali salah seorang yang duduk disamping saya bertanya; “De, kok kayaknya enak aja tidur terus di Bus?”
“Saya emang suka tidur kalau di mobil pak, malah kalau gak tidur suka pusing juga”, jawab saya.
Lalu saya bertanya pula: “Kalau bapak kenapa gak tidur?, kan perjalanan berjam-jam, apa gak capek?”
Beliau menjawab: “Badan saya capek berbelanja, saya ingin sekali dapat tidur, tapi susah.”
“Susah kenapa pak?”, Tanya saya lagi.
“Susah karena saya khawatir barang-barang saya terbawa orang”, jawabnya.
Akhirnya saya timpali; “Itulah yang membedakan kita pak, kalau saya mau tidur saya tinggal tidur tanpa banyak fikiran karena memang gak ada yang perlu dikhawatirkan. Sedangkan bapak tidak bisa tidur karena memikirkan banyaknya bawaan.”
“Iya juga ya . . .”, jawab si bapak.
---
Benar sahabat,
Dalam perjalanan kehidupan pun terkadang kita sulit untuk tentram bahkan hanya sekedar untuk tenang dalam beribadah ternyata karena kita terlalu memiliki banyak beban, beban urusan perdagangan, pekerjaan, atau beban dunia yang lainnya, sehingga kita menganggap sangat sayang jika waktu yang kita gunakan untuk beribadah terlalu banyak sehingga rizki kita diambil orang. Allahul Musta'an.
Setiap perjalanan dari Bukit Tinggi menuju Pangkalan Kerinci saya sering tertidur dengan nyenyaknya di bus Yanti Grup yang mayoritas penumpangnya adalah para penggaleh pulang berbelanja di Aur Kuning.
Suatu kali salah seorang yang duduk disamping saya bertanya; “De, kok kayaknya enak aja tidur terus di Bus?”
“Saya emang suka tidur kalau di mobil pak, malah kalau gak tidur suka pusing juga”, jawab saya.
Lalu saya bertanya pula: “Kalau bapak kenapa gak tidur?, kan perjalanan berjam-jam, apa gak capek?”
Beliau menjawab: “Badan saya capek berbelanja, saya ingin sekali dapat tidur, tapi susah.”
“Susah kenapa pak?”, Tanya saya lagi.
“Susah karena saya khawatir barang-barang saya terbawa orang”, jawabnya.
Akhirnya saya timpali; “Itulah yang membedakan kita pak, kalau saya mau tidur saya tinggal tidur tanpa banyak fikiran karena memang gak ada yang perlu dikhawatirkan. Sedangkan bapak tidak bisa tidur karena memikirkan banyaknya bawaan.”
“Iya juga ya . . .”, jawab si bapak.
---
Benar sahabat,
Dalam perjalanan kehidupan pun terkadang kita sulit untuk tentram bahkan hanya sekedar untuk tenang dalam beribadah ternyata karena kita terlalu memiliki banyak beban, beban urusan perdagangan, pekerjaan, atau beban dunia yang lainnya, sehingga kita menganggap sangat sayang jika waktu yang kita gunakan untuk beribadah terlalu banyak sehingga rizki kita diambil orang. Allahul Musta'an.
=-=
Pangkalan Kerinci, 15 Rajab 1435H
Pangkalan Kerinci, 15 Rajab 1435H

Tidak ada komentar:
Posting Komentar