Minggu, 01 Juni 2014

Dan Berfikirpun Menghilangkan Rasa Takutnya

Abul ‘Abbas Ahmad Bin Thouloun at-Turki merupakan salah seorang pemimpin Mesir yang sangat dzalim dan haus darah.

Al-Imam Adz-Dzahabi Rahimahullah dalam Siyar A’laamin Nubala’ mengutip pernyataan al-Qudha’i yang menyatakan bahwa tidak kurang dari delapan belas ribu jiwa kaum muslimin melayang karena dibiarkan kelaparan dan kehausan di dalam penjara.

Abul Hasan Bin Muhammad Bin Hamdan Rahimahullah seorang alim nan zahid yang mengetahui kedzaliman itupun mendatangi Ibnu Thouloun untuk menegakkan kewajibannya dalam menasehati pemimpin dzalim. Diapun menasehati Ibnu Thouloun, mengingatkan akan kedzalimannya dan menakut-nakutinya dengan adzab Allah.

Bukannya menerima nasehat sang Zahid, telinga Ibnu Thouloun justeru merah dan panas mendengarnya. Panas dari kuping Ibnu Thouloun berlanjut kedalam hatinya sehingga dia menjadi sangat murka kepada Abul Hasan dan Abul Hasan pun di penjara oleh si dzalim Ibnu Thouloun.

Tidak puas hanya memenjarakan Abul Hasan, Ibnu Thouloun pun memerintahkan bawahannya untuk memasukkan “teman” menemani sang Zahid.

Tahukah anda siapa yang dijadikan teman satu sel dengan Abul Hasan?

Bukan sesama alim yang terdzalimi, bukan pula penjahat kelas berat. Singa laparlah yang dipilih oleh Ibnu Thouloun untuk menemani Abul Hasan. Ya, singa lapar yang sudah tiga hari tidak diberi makan.

Ibnu Thouloun tidak sabar untuk melihat Abul Hasan menggigil ketakutan dihadapan singa yang siap menerkam. Namun apa yang terjadi sungguh diluar perkiraan dan kendalinya.

Selain Ibnu Thouloun yang melongo kebingungan, Kaum Muslimin yang melihat dengan rasa sedih dan takut akan apa yang hendak terjadi pada sang Alim pun heran bercampur bahagia melihat apa yang terjadi.

Singa lapar yang awalnya sangat bersemangat untuk melahap habis jasad Abul Hasan pun tiba-tiba tunduk dan terdiam begitu mendekati sang Alim yang duduk dengan tenang sama sekali tidak terusik dengan kehadirannya , nafsu makan si raja rimba hilang berganti dengan keta’dziman pada orang yang hampir ia mangsa.

Adegan ini tentu menakjubkan bagi orang-orang yang menyaksikannya, bahkan bagi kita yang hanya membaca atau mendengar kisahnya berabad-abad kemudian.

Namun sesungguhnya ada yang lebih menakjubkan dibalik ketenangan sang Alim nan Zahid itu.

Anda tahu kenapa???

Ketika ditanyakan kepadanya mengapa engkau begitu tenang dan tidak menoleh sedikitpun ketika singa itu hendak menerkammu?, maka Iapun menjawab:


إني كنت أفكر في لعاب الأسد أهو طاهر أم نجس
“Sesungguhnya (ketika itu) aku berfikir tentang air liur singa, apakah hukumnya najis atau tidak ”

Allahu Akbar, dalam keadaan segenting itu ternyata ia begitu tenang dengan indahnya memikirkan ilmu.

-=-=-

Pangkalan Kerinci, 4 Rajab 1435H

Tidak ada komentar:

Posting Komentar